Minggu, 09 Januari 2011

TIPOLOGI BAHASA

TIPOLOGI BAHASA

DEFINISI TIPOLOGI BAHASA
Cabang linguistik yang meneliti corak atau tipe kesemua bahasa yang ada di dunia.

Bahasa yang coraknya sama atau setidak-tidaknya mirip dikelompokkan menjadi satu golongan atau dalam satu kelas yang sama, digolongkan sebagai satu tipe.

Istilah variannya adalah klasifikasi bahasa (language classification).

JENIS TIPOLOGI BAHASA

1. Tipologi genetis
2. Tipologi struktural
3. Tipologi Areal
4. Tipologi Sosiolingual

DEFINISI TIPOLOGI GENETIS
Klasifikasi bahasa yang didasarkan pada
Masalah kekeluargaan atau kekerabatan
Bahasa.
Tujuan:
(a) mencari kekerabatan bahasa,
(b) mencari bahasa induk atau bentuk purba bahasabahasa yang dipandang sekerbat,
(c) mencari daerah asal bahasa induk (yang berarti tanah asal, permukiman, dan pemakai-pemakainya)
(d) persebaran bangsa-bangsa
Tokoh:
1. Josephus Justus Scaliger (1540-1609)
dikatakan sebagai pemula. Pada tahun 1610
terbitlah karyanya yang ditulis pada tahun 1599:
Diatriba de Europaerum Linguis. Isi buku itu ada-
lah pengembalian bahasa-bahasa Eropah ke da-
lam sebelas bahasa induk dan pada sebelas ba-
hasa itu lalu ditetapkan adanya banyak dialek. Di
antara bahasa dasar ada empat yang besar (baha-
(sa Latin, Yunani, German, dan Slavia), ada tujuh
yang kecil yang sama sekali tidak mempunyai
hubungan persaudaraan satu sama lain.

2. Franz Bopp (1791-1867), R.K. Rask (1787-1832),
dan Jacob Grimm (1785-1863)
dipandang sebagai bapak ilmu perban-
dingan bahasa. Ketiga ahli itu memban-
dingkan kesamaan corak-corak bahasa
yang ada untuk mengetahui kekeluarga-
an bahaa Indogerman atau Indo-Eropah.

3. Wilhelm von Humboldt (1767-1835)
Yang dipandang sebagai penegak pertama
linguistik umum adalah Dia pengelompok-
kan bahasa-bahasa di dunia menjadi empat
kelompok, yaitu:
(1) bahasa monosilabe,
(2) bahasa aglutinasi,
(3) bahasa fleksi,
(4) bahasa inkorporasi.

SEMANTIK DAN PRAGMATIK

DEFINISI SEMANTIK
Semantik (semantics) adalah cabang linguistik yang meneliti arti atau makna.
Makna yang diteliti oleh semantik adalah makna bebas konteks. Makna itu ada yang bersifat leksikal dan ada yang gramatikal.
1. Pengertian Semantik
Semantik (semantics) adalah cabang linguistik yang meneliti arti atau makna. Makna yang diteliti oleh semantik itu adalah makna bebas konteks. Makna itu ada yang bersifat leksikal dan ada yang gramatikal.

2. Bahan Penelitian Semantik
Bahan penelitian semantik adalah semua satuan kebahasaan bermakna, seperti wacana, kalimat, frasa, kata, dan morfem. Objek sasarannya adalah makna satuan-satuan kebahasaan itu.

3. Makna, Informasi, dan Maksud
Dalam semantik dikenal konsep makna, informasi, dan maksud. Ketiga konsep itu berbeda satu sama lain. Makna (meaning) adalah sesuatu yang berada di dalam ujaran atau gejala dalam-ujaran. Informasi (information) adalah sesuatu yang luar-ujaran di pihak objek kenyataan yang dibicarakan. Maksud (sense) adalah sesuatu yang luar-ujaran di pihak maksud si pengujar sendiri.
4. Semantik Gramatikal
Semantik gramatikal (grammatical semantics), yaitu semantik yang meneliti makna gramatikal (grammatical meaning). Makna gramatikal adalah makna yang muncul karena hubungan antara satuan kebahasaan yang satu dengan satuan kebahasaan yang lain dalam satuan kebahasaan yang lebih besar. Afiks –i, misalnya, mempunyai makna gramatikal ‘tempat’ bila melekat pada bentuk dasar sejenis duduk dan mempunyai makna gramatikal ‘berkali-kali’ bila melekat pada bentuk dasar sejenis pukul.
5. Semantik Leksikal
Semantik leksikal (lexical semantics, word semantics), yaitu semantik yang meneliti makna leksikal (lexical meaning, semantic meaning, external meaning). Makna leksikal adalah makna satuan kebahasaan sebagai lambang benda, peristiwa, dan lain-lain yang terlepas dari penggunaannya atau konteksnya. Makna leksikal dalam deskripsi linguistik lazimnya ditandai dengan tanda petik tunggal (’...’). Kata meja, misalnya, memiliki makna leksikal ‘perkakas (perabot) rumah yang mempunyai bidang datar sebagai daun dan berkaki sebagai penyangganya’.
6. Lingkup pembicaraan dalam Semantik Leksikal
a. Makna dan referensi
Makna leksikal menunjuk pada sifat “kata” sebagai unsur leksikal. Referensi menunjuk pada sesuatu yang ditunjuk.
Referensi merupakan salah satu sifat makna leksikal.
Referensi ada dua:
referensi ekstralingual (eksoforis): referen di luar bahasa.
(Semantik leksikal)
referensi intralingual (endoforis):
(Semantik gramatikal) - referen di dalam tuturan.
- anaforis (merujuk ke belakang)
- kataforis (merujuk ke depan)
b. Denotasi dan konotasi
Denotasi: makna harfiah
Konotasi: makna kias
c. Makna ekstensional dan analisis intensional
Makna ekstensional = makna pragmatis à hal-hal ekstralingual
Makna intensional = sifat-sifat semantis

d. Analisis komponensial
Komponen pembeda. Dipelajari oleh ahli antropologi.
e. Sinonim, antonim, homonim, dan hiponim
BAHAN DAN OBJEK SEMANTIK
Bahan penelitian semantik adalah semua satuan lingual bermak¬na, seperti wacana, kalimat, frasa, kata, dan morfem. Objek sasarannya adalah makna satuan-satuan lingual itu.

MAKNA,INFORMASI, DAN MAKSUD
Dalam semantik dikenal konsep makna, informasi, dan maksud. Ketiga konsep itu berbeda satu sama lain. Makna (meaning) adalah sesuatu yang berada di dalam ujaran atau gejala dalam-ujaran. Informasi (information) adalah sesuatu yang luar-ujaran di pihak objek kenyataan yang dibicarakan. Maksud (sense) adalah sesuatu yang luar-ujaran di pihak maksud si pengujar sendiri.

JENIS SEMANTIK
 Semantik leksikal (lexical semantics, word semantics), yaitu semantik yang meneliti makna leksikal (lexical meaning, semantic meaning, external meaning). Makna leksikal adalah makna satuan lin-gual sebagai lambang benda, peris-tiwa, dan lain-lain; makna leksikal ini dimiliki oleh satuan lingual lepas dari penggunaannya atau konteks-nya.
 Semantik gramatikal (grammatical semantics), yaitu semantik yang meneliti makna gramatikal (grammatical meaning). Makna gramatikal adalah makna yang muncul karena hubungan anta¬ra sa¬tuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain dalam satuan lingual yang lebih besar.
 Makna referensial adalah makna yang ada referen atau acuannya, sedangkan makna nonrefernsial adalah makna yang tidak mempunyai referen atau acuannya.

 Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh satuan lingual, sedangkan makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif.

 Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh satuan kebaha-saan terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun, sedangkan mak-na asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh satuan kebahasaan berkenaan dengan adanya hubungan satuan kebahasaan iatu dengan sesuatu di luar bahasa.

PRAGMATIK
 Pragmatik adalah cabang linguistik yang menyelidiki makna tuturan (utterances). Medan yang digeluti oleh pragmatik itu ada empat, yaitu deiksis, praanggapan, tindak ujaran, dan implikatur percakapan.
 Deiksis (deixis) adalah kata-kata yang tidak memiliki referen yang tetap. Kata-kata deiktis itu misalnya saya, sini, dan sekarang. Kata-kata itu tidak mempunyai referen yang tetap. Berbeda halnya dengan kata meja, kursi, dan pintu. Kata-kata itu mempunyai referen yang tetap.
 Praanggapan (presupposition) adalah syarat yang diperlukan bagi benar-tidaknya suatu kalimat. Misalnya kalimat Ia berdagang adalah praanggapan bagi kebenaran kalimat Barang dagangannya sangat laku.
 Tindak ujaran (speech acts) berhubungan dengan fakta bahwa di dalam mengatakan suatu kalimat, seseorang tidak semata-mata mengatakan ssuai dengan mengucapkan kalimat itu, tetapi ia juga "menindakkan" sesuatu. Dalam pernyataan Sudah jam sembilan, misalnya, yang dimaksudkan tidak sekadar memberi tahu keadaan jam pada waktu itu, tetapi juga dimaksudkan untuk memerintahkan lawan bicara supaya segera pulang karena waktu kunjungan habis.
 Implikatur percakapan (conversational implication) berhubungan dengan adanya "kesepakatan bersama" antara dua orang yang bercakap-cakap. Kesepakatan itu antara lain berupa kontrak tak tertulis bahwa ihwal yang dibicarakan harus saling berhubungan atau berkaitan. Kalimat Aku sudah mandi tadi sebagai jawaban atas pernyataan Wah, panas sekali, ya, sore ini! Kamu kok tenang-tenang saja; apa nggak keringatan?, misalnya, berhubungan dengan implikatur percakapan itu.

Morfologi

MORFOLOGI

A. Pengertian Morfologi
Istilah morfologi merupakan serapan dari bahasa Inggris mor¬phology. Mor¬fologi itu adalah cabang linguistik yang mem¬pel¬ajari bagian-¬bagian kata secara gramatikal (Verhaar, 1981:52). Pe¬nyebutan “bagian-bagian kata secara grama¬ti¬kal” itu penting kare¬na terdapat pula bagian-bagian kata secara fonemis (lih. Ver¬haar, 1981:52). Contohnya ada¬lah fonem /i/ dalam kata menduduki dan mencari. Fonem /i/ dalam menduduki adalah morfem, sedangkan da¬lam mencari me¬rupa¬kan fonem. Hal ini terjadi ka¬rena /i/ pada kata mendu¬duki mempunyai makna, se¬dangkan dalam mencari ti¬dak.

B. Bahan dan Objek Penelitian Morfologi: Kata dan Morfem
Bahan penelitian morfologi adalah kata, sedangkan objek penelitiannya adalah morfem (morpheme). Perlu dicatat bahwa bila diperhatikan se¬cara morfe¬mis, kata ada yang terdiri atas satu morfem dan ada yang terdiri atas dua atau lebih morfem. Kata jenis pertama disebut kata monomorfemis, sedangkan yang kedua disebut kata polimorfemis. Contohnya adalah kata lari dan dan tersenyum. Kata lari merupakan kata monomorfemis karena hanya terdiri atas satu morfem, yaitu {lari}, sedangkan kata tersenyum merupakan kata polimorfemis karena terdiri atas dua morfem, yaitu {ter-} dan {senyum}. Kata yang menjadi bahan penelitian morfologi, terutama adalah kata polimorfemis (poly¬mor¬phemic words).
Morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil (Verhaar, 1981:2). Disebut sebagai “sa¬tuan gramatikal terkecil” karena seti¬ap morfem mempunyai makna. Sebagai satuan gramatikal terkecil, morfem itu tidak lagi mempunyai unsur gramatikal yang lebih ke¬cil lagi. Morfem memang dimungkinkan memiliki unsur-unsur yang lebih kecil lagi, tetapi unsur-unsur yang dimaksud bukanlah un¬sur morfem, melainkan fonem. Jadi, morfem dapat terdiri atas satu fo¬nem, misalnya fo¬nem -i dalam kata memukuli, mengamati, meng¬¬angkati, dan sebagainya, atau lebih dari satu fonem, mi¬salnya -kan dalam mencarikan, memukulkan, meng¬angkatkan, dan seba¬gai¬nya.

C. Deretan Paradigma
Morfem dapat ditentukan lewat deretan paradigma. Deret¬an paradigma adalah deret¬an kata-kata yang berhubungan bentuk dan mak¬nanya (lih. Ramlan, 2001:34). Kata membelikan, mi¬sal¬nya, terdiri atas satu morfem atau lebih perlu dideretkan dengan kata-kata lain yang berhubungan bentuk dan mak¬nanya. Demi¬ki¬anlah, di samping membe¬likan, terdapat pula kata di¬be¬likan, be¬likan, dan pem¬belian di satu pihak dan membawakan, diba¬wakan, ba¬wakan, dan pembawaan serta membuatkan, dibuatkan, buatkan, dan pembuatan, seperti tam¬pak dalam deretan berikut.

(a) (b) (c)
(1) membelikan membawakan membuatkan meN-kan
(2) dibelikan dibawakan dibuatkan di-kan
(3) belikan bawakan buatkan -kan
(4) pembelian pembawaan pembuatan peN-an
beli bawa buat

Dari deretan tersebut, dapat diketahui bahwa kata membelikan ter¬diri atas tiga morfem, yaitu {meN-}, {-kan}, dan {beli}.
D. Morfem, Morf, dan Alomorf
Morfem berwujud abstrak (Verhaar, 1981:57). Keabstrakan morfem itu, misalnya, kelihatan jelas dalam pranalisasi (yang di¬lambangkan dengan N kapital) dalam prefiks {meN-}. Dalam pemakaian, lambang N kapital itu berubah menjadi /mәŋ-/ (misalnya dalam kata menggunakan /mәŋgunakan/), /mәm-/ (misalnya da¬lam kata membeli /mәmbәli/), /mәŋә-/ (misalnya dalam kata mengecat /mœNœcat/), /mәñ-/ (misalnya dalam kata mencari /mәñcari/), /mәn-/ (misalnya dalam kata menangis /mәnaNis/), dan /mә-/ (misalnya dalam kata melarang /mœlaraN/). Dari pemakaian morfem {meN-} itu dapat diketahui bahwa morfem bersifat abstrak. Morfem harus dikenali lewat realisasi (atau pemakaian) konkretnya. Realisasi kon¬kret itu disebut alomorf. Misalnya realisasi konkret morfem {meN-} adalah /mәŋ-/, /mәm-/, /mәŋә-/, /mәñ-/, /mәn-/, dan /mә-/.
Morf adalah salah satu bentuk alomorfemis dari suatu mor¬fem yang dipilih untuk mewakili bentuk konkret morfem. Hanya, bentuk yang dipilih itu dianggap mewakili secara konkret morfem yang bersangkutan (lih. Verhaar, 1981:57).

E. Jenis-jenis Morfem
Morfem-morfem dapat diklasifikasikan berdasarkan (a) kemungkinannya sebagai kata, (b) ke¬duduk¬annya dalam pembentukan kata, (c) ba¬nyak¬nya alo¬morf, (d) proses morfemis, (e) jenis fo¬nem yang menyusunnya, dan (f) macam makna¬nya. Ber¬ikut ini hasil klasifikasi itu masing-masing dipaparkan.

1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat
Menurut kemungkinannya sebagai kata, morfem-morfem da¬pat di¬bagi menjadi dua jenis, yaitu morfem bebas (free mor¬pheme) dan morfem terikat (bound morpheme). Morfem bebas ialah morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata, sedangkan morfem terikat adalah mor¬fem yang tidak dapat berdiri sen¬diri sebagai kata, te¬tapi selalu dirangkaikan de¬ngan satu morfem atau lebih yang lain menjadi satu kata. Yang termasuk morfem bebas mi¬sal¬nya {orang}, {mata}, {datang}, dan {tidur}, sedangkan yang ter¬ma¬suk morfem terikat misalnya {ber-}, {meng-}, {di-}, {temu}, {juang}, dan {ajar}.

2. Morfem Dasar dan Morfem Imbuhan
Menurut kedudukannya dalam pembentukan kata, morfem-mor¬fem dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu morfem dasar dan morfem imbuhan. Morfem dasar adalah morfem yang dile¬buri mor¬¬fem lain dalam pemben¬tukan kata. Menurut Verhaar (1996:99), morfem dasar ini terdiri atas tiga jenis, yaitu:
a. morfem pangkal adalah morfem dasar yang bebas, contoh¬nya adalah {do} dalam undo dan {hak} dalam berhak;
b. morfem akar adalah morfem dasar yang berbentuk terikat. Agar menjadi ben¬tuk bebas, mor¬¬fem ini akan harus menga¬lami pengimbuhan. Misalnya infinitif verbal Latin amare ‘mencin¬tai’ memiliki akar {am-} dan akar {am-} itu selamanya mem¬bu¬tuhkan imbuhan (mi¬sal¬nya imbuhan “infinitif aktif” {-are} dalam kata amare) untuk menjadi bentuk bebas, ar¬ti¬nya, {am-} plus klitik tidak akan meng¬hasilkan bentuk bebas, dan pemaje¬muk¬an dengan {am-} juga tidak mungkin.
c. bentuk pradasar ialah bentuk yang membutuhkan peng¬¬¬imbuh¬an, peng¬klitik¬an, atau pe¬majemukan untuk men¬¬jadi ben¬tuk bebas. Misalnya, morfem {:ajar} be¬rupa pra¬¬dasar (yang dalam hal ini pradasar itu dilambangkan titik dua (:) di de¬pan bentuk yang bersangkut¬an). Morfem itu dapat menjadi bebas me¬lalui peng¬imbuhan (misalnya dalam mengajar, belajar, dan sebagainya), dapat juga me¬la¬lui pengklitikan (misalnya dalam kami ajar, saya ajar, dan lain-lain yang serupa), dan dapat ju¬ga dengan pemajemukan (misalnya dalam kurang ajar).
Morfem imbuhan adalah morfem yang dalam pemben¬¬tuk¬an kata berfungsi sebagai imbuhan. Yang perlu diketahui ada¬¬lah se¬mua morfem imbuhan merupa¬kan morfem terikat (Ver¬haar, 1981:53). Morfem imbuhan itu tidak dapat menjadi dasar atau asal da¬lam pembentuk¬an kata. Misalnya, morfem {ber-} dan {ke-an} dalam kata ber¬ke¬sudahan merupakan morfem imbuhan.
Morfem imbuhan dapat berupa afiks dan klitik. Afiks adalah morfem im¬buhan yang dapat diimbuhkan di awal (yang disebut prefiks atau awalan), te¬ngah (yang dinamai infiks atau sisipan), akhir (yang dinamai sufiks atau akhiran), serta awal dan akhir (yang dinamai konfiks atau imbuhan gabung) mor¬fem dasar. Dalam kata membeli, gerigi, mainan, dan keadaan, misalnya, morfem {meN-}, {-er}, {-an}, dan {ke-an} merupakan morfem imbuhan yang berupa afiks.
Klitik adalah morfem imbuhan yang diimbuhkan di awal atau akhir mor¬fem dasar. Klitik yang diimbuhkan di awal morfem dasar disebut proklitik, se¬dangkan yang diimbuhkan di akhir morfem dasar dinamai enklitik. Dalam kata kubawa dan bukuku, misalnya, morfem {ku-} dan {-ku} merupakan imbuhan yang berupa klitik.

3. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Khusus dalam hal morfem terikat, entah imbuhan, akar, atau pradasar, da¬pat be¬rupa morfem utuh (continous morpheme) dan morfem terbagi (dis¬continous morpheme). Morfem utuh ter¬dapat bila bentuknya tidak diantarai oleh unsur lain, dan morfem ter¬bagi terdapat apa¬bila bentuknya dibagi menjadi dua atau lebih ba¬¬gi¬an yang berjauhan (Ver¬haar, 1981:53). Morfem {ber-}, {memper-}, dan {diper-}, misalnya, me¬rupakan morfem utuh, se¬dangkan mor¬fem {ke-an}, {ber-an}, dan {ber-kan}, misalnya, me¬rupakan morfem ter¬bagi.

4. Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental
Morfem dapat dibedakan menjadi morfem segmental dan morfem supra¬segmental. Morfem segmental adalah morfem yang terjadi dari fonem segmental. Morfem segmental itu misalnya morfem {ke-an}, {-in-}, dan {sambung} dalam kata kesinambungan. Morfem su¬prasegmental adalah morfem yang terjadi dari fonem supra¬segmen¬tal. Morfem suprasegmental itu dapat disebut pula dengan is¬tilah morfem nonsegmental. Morfem su¬prasegmental itu dapat dijumpai dalam bahasa-bahasa nada, misalnya bahasa Ngbaka, bahasa Sudan di Congo Utara. Me¬nurut Nida (yang dikutip Kentjono, 2005:147), verba dalam bahasa Ngbaka selalu disertai penunjuk kala yang berupa morfem suprasegmental:

No. Kala kini Kala lampau Kala nanti Imperatif makna
1 à Ä â Á menaruh
2 wà Wä wâ wÁ membersihkan
3 sà Sä sâ sÁ memanggil

5. Morfem Leksikal dan Morfem Gramatikal
Morfem dapat pula dibedakan menjadi morfem leksikal dan morfem gramatikal. Morfem leksikal adalah morfem yang memi¬liki makna leksikal, seperti misalnya {meja}, {kursi}, {ja¬lan}, dan se¬ba¬gainya. Morfem yang memiliki makna gramatikal disebut morfem gramatikal, mi¬salnya {ber-}, {-i}, dan sebagai¬nya.

6. Morfem Zero
Selain jenis-jenis morfem yang dipaparkan di atas, ma¬sih ada satu jenis morfem la¬gi, yaitu morfem zero. Morfem zero itu dapat disebut pula morfem nol. Simbol mor¬femis morfem zero atau nol itu adalah {ø}. Morfem zero adalah morfem yang ti¬dak diwu¬judkan de¬ngan fonem. Contohnya adalah pemluralan dalam ba¬hasa Inggris sheep [tunggal]: sheep [plural]. Struktur morfemis bentuk tunggalnya adalah monomorfemis sheep dan bentuk plu¬ralnya ada¬lah {sheep} + {[morfem plural] ø} (Verhaar, 1996:102).

E. Proses Morfemis
Proses morfemis adalah proses pembentukan kata dengan peng¬¬u¬bahan morfem dasar tertentu yang berstatus morfem leksikal dengan alat pembentuk yang juga berstatus morfem, tetapi dengan kecenderung¬an bermakna gramatikal dan bersifat terikat. Morfem-morfem yang dipakai untuk proses itu adalah afiks (affix), klitik (clitic), modifikasi internal (internal modification), reduplikasi (reduplication), dan komposisi (compound).

1. Afiks
Afiks adalah morfem terikat yang apabila ditambahkan atau dile¬kat¬kan pada morfem dasar akan mengubah makna grama¬tikal morfem dasar (lih. Kri¬dalaksana, 2001:3). Berdasarkan letaknya da¬lam kata, afiks dapat di¬be¬dakan men¬jadi enam jenis, yaitu:
a. prefiks (prefix) adalah afiks yang diletakkan di awal morfem dasar, mi¬sal¬nya ber-, me-, di-, ter-, se-, dan sebagainya;
b. infiks (infix) adalah afiks yang ditempatkan di tengah morfem dasar, mi¬salnya -in-, -em-, dan sebagainya;
c. interfiks (interfix) adalah afiks yang muncul di antara dua morfem dasar, misalnya -o- dalam jawanologi, galvologi, dan ti¬po¬logi;
d. sufiks (suffix) adalah afiks yang diletakkan di akhir morfem dasar, mi¬salnya -s, -al, -an, dan sebagainya;
e. konfiks (confix) atau sirkumfiks (circumfix) adalah ga¬bung¬an dua afiks yang sebagian di¬letakkan di awal dan sebagian yang lain di akhir morfem dasar, misalnya ke-an, ber-kan, per-an, dan sebagainya; dan
f. transfiks (transfix) adalah afiks terbagi yang muncul tersebar di da¬lam morfem dasar, mi¬sal¬nya dalam bahasa Arab, a-a-a, a-i-a, a-u-a ‘persona ketiga, jantan, perfektum’ muncul dalam morfem dasar k-t-b, sy-r-b, h-s-n menjadi kataba ia menulis’, syariba ‘ia minum’, hasuna ‘ia bagus’ (Kri¬da¬laksana, 2001:218; Bauer, 1988:24).

2. Klitik
Klitik tidak sama dengan afiks. Klitik juga merupakan mor¬¬¬fem terikat, tetapi tidak me¬mi¬liki perilaku seperti afiks. Perilaku klitik adalah:
a. dapat dilekatkan pada bermacam-macam jenis kata (lih. Ver¬haar, 1981:62), tetapi tidak menjadi penentu ciri khas dari jenis kata tertentu;
b. memilik makna leksikal (Ramlan, 2001:57);
c. apabila dilekatkan pada morfem dasar, tidak pernah meng¬alami per¬ubahan bentuk;
d. dapat menduduki fungsi sintaktis tertentu di dalam frasa atau kalimat;
e. tidak mengubah golongan kata yang dilekati;
Berdasarkan letaknya di dalam kata, klitik dapat dibedakan men¬jadi dua jenis, yaitu proklitik (proclitic) dan enklitik (enclitic). Proklitik adalah klitik yang ditambahkan pada awal kata, misalnya ku- dan kau- pada kuambil dan kauambil, sedangkan enklitik ada¬lah kli¬tik yang diletakkan di akhir kata, misalnya -mu dan -ku dalam bukumu dan bukuku.

3. Modifikasi Internal
Modifikasi internal menyangkut perubah¬an internal di dalam kata. Perubahan internal itu biasanya berupa per¬ubahan vokal sehingga modifikasi internal biasa pula disebut modifikasi vokal (vowel modification). Perubahan vokal yang dimaksud tentu saja yang meng¬ubah makna kata. Bandingkanlah per¬ubahan vokal dalam kata mondar-mandir dan sing - sang - sung. Perubahan vokal dalam mondar-mandir tidak mengubah apa-apa ka¬rena da¬lam bahasa In¬donesia ti¬dak dijumpai mondar atau mandir se¬hingga perubahan vokal dalam mon¬dar-mandir itu bukanlah mor¬fem, tetapi dalam sing - sang - sung, per¬ubahan vokal itu meng¬ubah makna sehingga perubahan vokal dalam sing - sang - sung itu dapat di¬sebut morfem, ialah morfem terikat.

4. Reduplikasi
Reduplikasi, yang biasanya dilambangkan dengan {R}, juga merupakan morfem, yaitu morfem terikat, karena mengubah mak¬na gramatikal kata. Menurut Ramlan (2001:69-76), re¬duplikasi da¬pat dibedakan menjadi empat golongan, yaitu:
a. reduplikasi seluruh, ialah reduplikasi seluruh morfem dasar, tan¬pa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan pro¬ses pembubuhan afiks, misalnya sepeda dalam sepeda-se¬pe¬da dan buku dalam buku-buku;
b. reduplikasi sebagian, ialah reduplikasi sebagian dari morfem dasarnya, misalnya pertama menjadi pertama-tama dan ber¬apa menjadi beberapa;
c. reduplikasi yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, ialah reduplikasi yang terjadi bersama-sama dengan pro¬ses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi, misalnya anak menjadi anak-anakan, hi¬tam menjadi kehitam-hitaman; dan
d. reduplikasi dengan perubahan fonem, misalnya gerak men¬jadi gerak-gerik, serba menjadi serba-serbi,dan sebagainya.

5. Komposisi
Komposisi adalah perangkaian bersama-sama dua morfem un¬¬tuk mengha¬silkan satu kata. Kata yang dihasilkan lewat proses kom¬posisi di¬sebut kompo¬situm atau kata majemuk. Menurut Kri¬dalaksana (1989:109-110), kompositum memiliki ciri-ciri sebagai ber¬ikut:
a. ketaktersisipan; artinya, di antara komponen-komponen kom¬¬positum tidak dapat disisipi apa pun. Bulan warna adalah kom¬positum karena tidak dapat disisipi apa pun, sedangkan alat ne¬gara merupakan frasa karena dapat di¬sisipi partikel dari men¬jadi alat dari negara.
b. ketakterluasan; artinya, komponen kompositum itu ma¬sing-masing tidak dapat diafiksasikan atau dimodifikasikan. Per¬luasan bagi kompositum hanya mungkin untuk semua kompo¬nennya sekaligus. Misalnya kompositum ke¬reta api dapat dimo¬di¬fi¬ka¬si¬kan menjadi per¬keretaapian.
c. ketakterbalikan; artinya, komponen kompositum tidak dapat di¬pertukarkan. Gabungan seperti bapak ibu, pulang per¬gi, dan le¬bih kurang bukanlah kompositum, melainkan frasa ko¬ordina¬tif karena dapat dibalikkan (gabungan kata semacam itu mem¬beri kesempatan kepada penutur untuk me¬milih mana yang akan didahulukan). Konstruksi seperti arif bijak¬sana, hutan be¬lan¬tara, bujuk rayu bukanlah fra¬sa, melainkan kompositum.

G. Derivasi dan Infleksi
Derivasi adalah perubahan morfemis yang menghasilkan ka¬ta de¬ngan identitas morfemis yang lain, sedangkan infleksi adalah peru¬bah¬an morfemis dengan mempertahankan iden¬titas leksikal dari kata yang bersangkutan. Contoh untuk infleksi adalah per¬ubahan morfemis dari pe¬muda menjadi pemuda-pemuda dan untuk derivasi misalnya perubah¬an gunting menjadi menggunting. Perubahan dari pemuda menjadi pemuda-pemuda tidak mengubah identitas leksikal morfem dasar pemuda. Artinya, baik pemuda maupun pemuda-pemuda sama-sama meru¬pakan nomina dan perbedaan antarkeduanya hanyalah pada maknanya: pemuda bermakna ’tunggal’, sedangkan pemuda-pemuda bermakna ’jamak’
Berbeda halnya dengan perubahan morfem dasar gunting menjadi meng¬gunting. Ternyata, penambahan {meN-} pada gunting menjadi menggunting mengubah identitas gunting yang semula nomina menjadi verba.

H. Produktivitas
Morfem ada yang produktif dan tidak produktif. Morfem di¬katakan pro¬duktif apabila dapat diterapkan pada konstituen yang tidak la¬zim, atau belum per¬nah, mengalaminya dan dikatakan tidak produktif apabila tidak dapat dite¬rap¬kan pada konstituen yang belum pernah mengalaminya. Misalnya, morfem {meN-} meru¬pa¬kan morfem imbuh¬an yang produktif ka¬re¬¬na dapat melekat pada morfem dasar yang belum pernah dilekati seperti dunia menjadi men¬¬dunia.

Rabu, 29 Desember 2010

Epistimologi

EPISTEMOLOGI
1.Latar Belakang
Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanya kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menenatapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya (Luis O. Kattsoff, 2004
Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. Sistem filsafat disamping meliputi epistemologi, juga ontologi dan aksiologi. Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. Ontologi adalah teori tentang “ada”, yaitu tentang apa yang dipikirkan, yang menjadi objek pemikiran. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat, kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu. Oleh karena itu, ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan, mulai dari ontologi, epistemologi, kemudian aksiologi. Dengan gambaran senderhana dapat dikatakan, ada sesuatu yang dipikirkan (ontologi), lalu dicari cara-cara memikirkannnya (epistemologi), kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan suatu manfaat atau kegunaan (aksiologi).
Demikian juga, setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara detail, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. Hal ini akan lebih jelas lagi, jika kita renungkan bahwa meskipun terdapat objek pemikiran, tetapi jika tidak didapatkan cara-cara berpikir, maka objek pemikiran itu akan “diam”, sehingga tidak diperoleh pengetahuan apapun. Begitu juga, seandainya objek pemikran sudah ada, cara-cara juga adam tetapi tidak diektahui manfaat apa yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang dipikirkan itu, maka hanya akan sia-sia. Jadi, ketiganya adalah interrelasi dan interdependensi (saling berkaitan dan saling bergantung).
Namun demikian, ketika kita membicarakan epistemologi disini, berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. Oleh karena itu, kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemologi, mulai dari pengertian, ruang lingkup, objek, tujuan, landasan, metode, hakikat dan pengaruh epistemologi
B. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI
Secara historis, istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J.F. Ferrier, untuk membedakan dua cabang filsafat, epistemologi dan ontologi. Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli, tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya, sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda, buka saja pada redaksinya, melainkan juga pada substansi persoalannya.
Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep, meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Lazimnya, pembahasan konsep apa pun, selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis, guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. Misalnya, seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. Setelah memahami substansi belajar tersebut, dia baru bisa menjelaskan proses belajar, gaya belajar, teori belajar, prinsip-prinsip belajar, hambatan-hambatan belajar, cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. Jadi, pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian).
Demikian pula, pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya, sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu.
epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. Dalam Epistemologi, pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?; 2). Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?; 3). Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 2003, hal.32).
Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005).
Menurut Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan, P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan, sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan, sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan, sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan, yaitu realisme dan idealisme.
Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut, diungkapkan oleh Dagobert D.Runes. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut, tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami.
C. RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI.
Bertolak dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut, kiranya kita perlu memerinci aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. Sebenarnya masing-masing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi sekaligus, karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya, seperti proses maupun tujuan. Akan tetapi, ada baiknya dikemukakan pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi, sebab pernyataan-pernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi.
M.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.
Jadi meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat, tetapi cakupannya luas sekali. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi, sebagaimana diuraikan tersebut, maka teori pengetahuan itu bisa meliputi, hakikat, keaslian, sumber, struktur, metode, validias, unsur, macam, tumpuan, batas, sasaran, dasar, pengandaian, kodrat, pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. Bahkan menurut, Sidi Gazalba, taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang yang memberikannya termasuk epistemologi, sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin tentang psikologi kepercayaan. Jelasnya, seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi.
Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. Filsafat merupakan refleksi, dan refleksi selalu bersifat kritis, maka tidak mungkin seserorang memiliki suatu metafisika yang tidak sekaligus merupakan epistemologi dari metafisika, atau psikologi yang tidak sekaligus epistemologi dari psikologi, atau bahkan suatu sains yang bukan epistemologi dari sains. Epistemologi senantiasa “mengawali” dimensi-dimensi lainnya, terutama ketika dimensi-dimensi itu dicoba untuk digali. Kenyataan ini kembali mempertegas, bahwa antara epistemologi selalu berkaitan dengan ontologi dan aksiologi, melainkan bisa juga sebaliknya, ontologi dan aksiologi serta dimensi lainnya, seperti psikologi selalu diiringi oleh epistemologi.
Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi, ternyata hanya aspek-aspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof, sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan. Semestinya harus ada pergeseran pusat perhatian pembahasan ke arah aspek-aspek yang terabaikan itu, agar dapat menyajikan pembahasan terhadap aspek-aspek epistemologi seluruhnya secara proporsional. Lebih dari itu, perubahan kecenderungan pembahasan tersebut dapat memperkenalkan pengetahuan yang makin luas dan mendalam tentang cakupan epistemologi.
Kenyataannya, saat ini literatur-literatur filsafat masih terjadi pemusatan perhatian pada aspek-aspek tertentu saja. Aspek-aspek itu berkisar pada sumber pengetahuan, dan pembentukan pengetahuan. M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan, bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik, seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman, sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran, ontologi sebagai objek pemikiran, sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran, sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai, baik yang bercorak positif maupun negatif. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. Bagian-bagian lainnya jauh lebih banyak, sebagaimana diuraikan di atas.
Namun, penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang, terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat, khususnya bidang epistemologi. Hanya saja, jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi, tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan.
D. OBJEK DAN TUJUAN EPISTEMOLOGI
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan, sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Jika diamati secara cermat, sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran, sedang tujuan hampir sama dengan harapan. Meskipun berbeda, tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan, sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan. Dengan kata lain, tujuan baru dapat diperoleh, jika telah melalui objek lebih dulu. Misalnya, seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan, ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. Jadi, tujuannya adalah pembunuhan, sedangkan objeknya adalah kepalanya. Oleh karena itu, pembunuhan sebagai tujuan polisi baru mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran, tetapi terjadinya pembunuhan tidak hanya melalui menembak kepala perampok, bisa juga dadanya atau perutnya. Ini berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebih dari satu.
Sebaliknya, mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satu tetapi tujuannya banyak. Ternyata ini juga mungkin terjadi bahkan sering terjadi. Manusia misalnya, sejak lama ia menjadi objek penelitian dan pengamatan yang memiliki tujuan bermacam-macam, baik untuk membangun psikologi, sosiologi, pedagogi, ekonomi, antropologi, bilogi, ilmu hukum dan sebagainya, meskipun secara spesifik tekanan perhatian dalam meneliti dan mengamati itu berbeda-beda. Dewasa ini, justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir, perekayasa, dan juga pengusaha. Artinya, ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda. Kecenderungan ini justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis, mendorong kreativitas seseorang.
Aktivitas berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak-banyaknya, sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak-banyaknya. Hal ini merupakan implikasi dari tekanan masing-masing pola berpikir tersebut. Secara global, baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua, tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan pemikirnya.
Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. Objek material adalah sarwa-yang-ada, yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan, hakikat alam dan hakikat manusia. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya, sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwa-yang-ada).
Sebagai sub sistem filsafat, epistemologi atau teori pengetahuan yang pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Objek epistemologi ini menurut Jujun S.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.
Selanjutnya, apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari, akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.
Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan. Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan, tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan, sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif, sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil, sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. Seseorang yang mengetahui prosesnya, tentu akan dapat mengetahui hasilnya, tetapi seseorang yang mengetahui hasilnya, acapkali tidak mengetahui prosesnya. Guru dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa dua kali tiga sama dengan enam (2 x 3 = 6) dan siswa mengetahui, bahkan hafal. Namun, siswa yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan dan hafalan itu. Dia tentu akan mengejar bagaimana prosesnya, dua kali tiga didapatkan hasil enam. Maka guru yang profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail, sehingga siswa benar-benar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka lainnya.
Proses menjadi tahu atau “proses pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap pengetahuan, pemahaman dan pengembangan-pengembangannya. Proses ini bisa diibaratkan seperti kunci gudang, meskipun seseorang diberi tahu bahwa di dalam gudang terdapat bermacam-macam barnag, tetapi dia tetap hanya apriori semata, karena tidak pernah membuktikan. Dengan membawa kuncinya, maka gudang itu akan segera dibuka, kemudian diperiksa satu persatu barang-barang yang ada didalamnya. Dengan demikina, seseorang tidak sekedar mengetahuai sesuatu atas informasi orang lain, tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian melalui proses itu.
Penguasaan terhadap proses tersebut berfungsi mengetahui dan memahami pemikiran seseorang secara komprehensif dan utuh, termasuk juga ide, gagasa, konsep dan teorinya, sebab tidak ada pemikiran yang terpenggal begitu saja, tanpa ada alasan-alasan yang mendasarinya. Dalam kehidupan masyarakat tidak jarang terjadi sikap saling menyalahkan pemikiran seseorang, padahal mereka belum pernah melacak proses terjadinya pemikiran itu. Timbulnya suatu pemikiran senantiasa sebagai akibat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi, alasan-alasan yang melatar belakangi, maupun motif-motif yang mendasarinya. Ketika faktor, alasan dan motif ini belum dikenali, maka acapkali seseorang tidak akan bisa memahami pemikiran orang lain. Sebaliknya, jika seseorang terlebih dahulu berupaya mengenali faktor, alasan dan motif tersebut, maka dia akan mampu mengenali pemikiran orang lain dengan baik, sehingga dia dapat memakluminya. Faktor, alasan dan motif itu maupun komponen yang lain sesungguhnya termasuk dalam mata rantai proses sebuah pemikiran.
E. LANDASAN EPISTEMOLOGI
Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan, sebab ia merupakan tempat berpijak. Bangunan pengetahuan menjadi mapan, jika memiliki landasan yang kokoh. Bangunan pengetahuan bagaikan bangunan rumah, sedangkan landasan bagaikan fundamennya. Kekuatan bangunan rumah bisa diandalkan berdasarkan kekuatan fundamennya. Demikian juga dengan epistemologi, akan dipengaruhi atau tergantung landasannya.
Di dalam filsafat pengetahuan, semuanya tergantung pada titik tolaknya. Sedangkan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah; yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah. Dengan demikian, metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu, sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan.
Begitu pentingnya fungsi metode ilmiah dalam sains, sehingga banyak pakar yang sangat kuat berpegang teguh pada metode dan cenderung kaku dalam menerapkannya, seakan-akan mereka menganut motto: tak ada sains tanpa metode; akhirnya berkembang menjadi: sains adalah metode. Sikap ini mencerminkan bahwa mereka berlebihan dalam menilai begitu tinggi terhadap metode ilmiah, tanpa menyadari semuanya yang hanya sekedar salah satu sarana dari sains untuk mengukuhkan objektivitas dalam memahami sesuatu. Sesungguhnya sikap berlebihan itu memang riil, tetapi terlepas dari sikap tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi, yang jelas dalam kenyataanya metode ilmiah telah dijadikan pedoman dalam menyusun, membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu. Disini perlu dibedakan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan (ilmu). Pengetahuan adalah pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan, sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah, sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya; sistematis, objektif, logis dan empiris.
Dengan istilah lain, Kholil Yasin menyebut pengetahuan tersebut dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge), sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa, juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari, atau pengalaman sehari-hari. Pada bagian lain, disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah, juga sering disebut ilmu dan sains. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah, sedangkan substansisnya relatif sama, kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan, misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut, sumber-sumbernya, batas-batasanya, dan sebagainya.
Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan, melaikan termasuk wilayah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif
F. HUBUNGAN EPISTEMOLOGI, METODE DAN METODOLOGI
Selanjutnya perlu ditelusuri dimana posisi metode dan metodologi dalam konteks epistemologi untuk mengetahui kaitan-kaitannya, antara metode, metodologi dan epistemologi. Hal ini perlu penegasan, mengingat dalam kehidupan sehari-hari sering dikacaukan antara metode dengan metodologi dan bahkan dengan epistemologi. Untuk mengetahui peta masing-masing dari ketiga istilah ini, tampaknya perlu memahami terlebih dahulu makna metode dan metodologi. “Dalam dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut metode, yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”.
Lebih jauh lagi Peter R.Senn mengemukakan, “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu, maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual terhadap prosedur tersebut. Implikasinya, dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode.
Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode, kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan, sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Padahal mestinya dia harus benar-benar memahami, bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme, sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime, sesuatu yang ditentukan oleh yang lain), sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). Dengan demikian, metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi.
Oleh karena itu, dapat dijelaskan urutan-urutan secara struktural-teoritis antara epistemologi, metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi, dilanjutkan dengan merinci pada metodologi, yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat, maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Filsafat mencakup bahasan epistemologi, epistemologi mencakup bahasan metodologis, dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. Jadi, metode merupakan perwujudan dari metodologi, sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat.
Posisi masing-masing istilah ini, seperti lingkaran besar yang melingkari lingkaran kecil, dan dalam lingkaran kecil masih terdapat lingkaran yang lebih kecil lagi. Lingkaran besar disini diumpamakan filsafat, lingkaran kecil berupa epistemologi, dan lingkaran yang lebih kecil kecuali berupa metodologi. Ini berarti bahwa filsafat mencakup bahasan epistemologi, tetapi bahasan filsafat tidak hanya epistemologi karena masih ada bahasan lain, yaitu ontologi dan aksiologi. Demikian juga epistemologi mencakup bahasan metode (metodologi), namun bahasan epistemologi bukan hanya metode semata-mata, karena ada bahasan lain, seperti: hakikat, sumber, struktur, validitas, unsur, macam, tumpuan, batas, sasaran dan dasar pengetahuan. Untuk lebih jelas lagi perlu dibedakan adanya metode pengetahuan dan metode penelitian, kendatipun tidak bisa dipisahkan. Metode pengetahuan berada dalam dataran filosofis-teoritis, sedangkan metode penelitian berada dalam dataran teknis.
Dalam filsafat, istilah metodologi berkaitan dengan praktek epistemologi. Secara lebih khusus, problem penyelidikan ilmiah yang secara filosofis menjadi kajian utama cabang epistemologi yang berkaitan dengan problem metodologi juga berkaitan dengan rancangan tata pikir, apa yang benar dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. Kemudian berbicara tentang metodologi yang berarti berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran, baik dalam aspek parsial atau total. Lebih jelas lagi, bahwa seseorang yang sedang mempertimbangkan penggunaan dan penerapan metode untuk memperoleh pengetahuan, maka dia harus mengacu pada metodologi, mengingat pembahasan tentang seluk-beluk metode itu ada pada metodologi. Metodologi inilah yang memberikan penjelasan-penjelasan konseptual dan teoritis terhadap metode.
G. HAKIKAT EPISTEMOLOGI
Pembahasan tentang hakikat, lagi-lagi terasa sulit, karena ita tidak bisa menangkapnya, kecuali ciri-cirinya. Apalagi hakikat epistemologi, tentu lebih sulit lagi. Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan, membedakan cabang-cabangnya yang pokok, mengidentifikasikan sumber-sumbernya dan menetapkan batas-batasnya. “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi, tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. Pandangan yang lebih ekstrim lagi menurut Kelompok Wina, bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat, melainkan termasuk dalam kajian psikologi. Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia, the workings of human mind. Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia, karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. Kemudian jika diingat, bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu, maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia, terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain, kecuali psikologi, padahal realitasnya banyak sekali.
Oleh karena itu, epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat, walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik, justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis.
Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. Honer dan Thomas C.Hunt yang menilai, epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. Sejak semula, epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit, sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri, sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. Selain itu, pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja, maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita.
Luasnya jangkauan epistemologi ini menyebabkan objek pembahasannya sangat detail dan pelik. Metodologi misalnya telah digabungan secara teliti dengan epistemologi dan logika. Sementara itu, logika itu sendiri patut dipertanyakan, apakah logika itu bagian dari epistemologi, diluar epistemologi sama sekali, atau sekedar memiliki persentuhan yang erat dengan epistemologi. Ada yang menyatakan, bahwa posisi logika berada diluar ontologi, epistemologi dan aksiologi. Di samping itu, epistemologi tersebut sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa lepas dari ontologi dan aksiologi. Menurut, Jujun S. Suriasumatri, bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masing-masing. Dalam pemahaman yang sederhana epistemologi memiliki interrelasi (saling berhubungan dengan komponen lain, ontologi dan aksiologi).
Selanjutnya, epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan, apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya; apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui; apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui; dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. Tidak semua objek mesti dijelajahi oleh pengetahuan manusia. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar, sehingga tidak perlu diketahui, meskipun memungkinkan untuk diketahui. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri, sehingga tidak mungkin bisa diketahui.
Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya, berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. Sebaliknya, ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama, baruk ditarik kesimpulan secara umum, berarti dia menggunakan pendekatan induktif. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh, ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang, yaitu masa lampau yang telah dilalui. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis, sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia, karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek, jika dilihat dari kepentingan jangka panjang, maka tindakannya itu justru merugikan.
Pada bagian lain dikatakan, bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran, sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam, yakni pikiran dan indera. Oleh sebab itu, epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional, sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris. Hal ini juga bisa dikatakan, bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi, sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah.
Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi, maka menimbulkan pemahaman, bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme, atau deduktif dengan induktif), dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya, karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali, sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius.
H. PENGARUH EPISTEMOLOGI
Bagi Karl R. Popper, epistemologi adalah teori pengetahuan ilmiah. Sebagai teori pengetahuan ilmiah, epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. Tetapi, ilmu pengetahuan harus ditangkap dalam pertumbuhannya, sebab ilmu pengetahuan yang berhenti, akan kehilangan kekhasannya. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus, sehingga tidka jarang temuan ilmu pengetahuan yang lebih dulu ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian. Perkemabangan ilmu pengetahuan dengan demikian membuktikan, bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat tentatif. Selama belum digugurkan oleh temuan lain, maka suatu temuan dianggap benar. Perbedaan hasil teman dalam masalah yang sama ini disebabkan oleh perbedaan prosedur yang ditempuh para ilmuwan dalam membentuk ilmu pengetahuan. Melalui pelaksanaan fungsi dan tugas dalam menganalisis prosedur ilmu pengetahuan tersebut, maka epistemologi dapat memberikan pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah. Proses ini lebih penting daripada hasil, mengingat bahwa proses itulah menunjukkan mekanisme kerja ilmiah dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Akhirnya, epistemologi bisa menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang kebenarannya terandalkan.
Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Dalam filsafat, banyak konsep dari pemikiran filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemologi. Penguasaan epistemologi, terutama cara-cara memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Koreksi secara kontinyu terhadap pemikirannya sendiri ini untuk menyempurnakan argumentasi atau alasan supaya memperoleh hasil pemikiran yang maksimal. Ini menunjukkan bahwa epistemologi bisa mengarahkan seseorang untuk mengkritik pemikiran orang lain (kritik eksternal) dan pemikirannya sendiri (kritik internal). Implikasinya, epistemologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara korektif dan kritis, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah dicapai, bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya.
Dinamika pemikiran tersebut mengakibatkan polarisasi pandangan, ide atau gagasan, baik yang dimiliki seseorang maupun masyarakat. Mohammad Arkoun menyebutkan, bahwa keragaman seseorang atau masyarakat akan dipengaruhi pula oleh pandangan epistemologinya serta situasi sosial politik yang melingkupinya. Keberangaman pandangan seseorang dalam mengamati suatu fenomena akan melahirkan keberagaman pemikiran. Kendati terhadap satu persoalan, tetapi karena sudut pandang yang ditempuh seseorang berbeda, pada gilirannya juga menghasilkan pemikiran yang berbeda. Kondisi demikian sesungguhnya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah suatu kelaziman, tidak ada yang aneh sama sekali, sehingga perbedaan pemikiran itu dapat dipahami secara memuaskan dengan melacak akar persoalannya pada perbedaan sudut pandang, sedangkan perbedaan sudut pandangan itu dapat dilacak dari epistemologinya
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu—dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.
Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis, yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu, perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya. Pada awalnya seseorang yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru, mungki saja mengalami kegagalan tetapi kegagalan itu dimanfaatkan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. Sebab dibalik kegagalan itu ditemukan rahasia pengetahuan, berupa faktor-faktor penyebabnya. Jadi kronologinya adalah sebagai berikut: mula-mula seseorang berpikir dan mengadakan perenungan, sehingga didapatkan percikan-percikan pengetahuan, kemudian disusun secara sistematis menjadi ilmu pengetahuan (sains). Akhirnya ilmu pengetahuan tersebut diaplikasikan melalui teknologi, technology is an apllied of science (teknologi adalah penerapan sains). Pemikiran pada wilayah proses dalam mewujudkan teknologi itu adalah bagian dari filsafat yang dikenal dengan epistemologi. Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut, maka epistemologi bukan hanya mungkin, melainkan mutlak perlu dikuasai.



suparmanhttp://www.blogger.com/profile/03249547895308622683noreply@blogger.com

Kamis, 14 Oktober 2010

Formalisme Rusia

Teori ini diasaskan pada tahun 1915 oleh Golongan Linguistik Moskow (Moscow Linguistic Circle) dan Persatuan Pengajian Bahasa Puitis dalam bahasa Rusia dari Petersburg atau ringkasnya disebut Opojaz. Tokoh terkenal dari kumpulan Linguistik Moskow ialah Roman Jakobson, manakala tokoh-tokoh penting dari kumpulan Opojaz ialah Viktor Shklovsky dan Boris Ejxenbaum. Pada asalnya, kumpulan-kumpulan ini hanya kumpulan kecil perbincangan dalam kalangan tokoh-tokoh muda filologi dan mereka juga dikenali sebagai kumpulan tokoh-tokoh penting bidang linguistik (Hashim Awang,1997:78). Mereka mendapat dorongan daripada golongan Futuris yang pada waktu itu menentang budaya seni yang didokong oleh golongan Simbolisme (Raman Selden & Peter Widdowson,1997:30). Selain dorongan daripada golongan Futuris, tulisan Victor Shklovsky yang diterbitkan pada tahun 1914 di St. Peterburg turut menyumbang kepada pembentukan Formalisme. Tulisan Shklovsky antara lain menyebutkan:-

`sekarang seni kuno telah mati, sementara seni baru belum lahir… hanya kreasi bentuk-bentuk artistik baru yang dapat memulihkan kesedaran manusia terhadap dunia, membangkitkan semangat dan membunuh pesimisme`

Golongan Opojaz sebenarnya adalah hasil gabungan dua kumpulan yang berbeza, iaitu kumpulan pelajar-pelajar yang mahir dari sekolah atau mazhab Boudouin de Courtenay dengan tokoh-tokoh pentingnya seperti Lev Jakubinskij dan E.D. Polivanov. Kumpulan kedua terdiri daripada ahli-ahli teori sastera yang secara langsung menumpukan perhatian kepada bidang kesusasteraan. Tokoh-tokoh penting dalam kumpulan kedua ini ialah Viktor Shklovsky, Boris Ejxembaum dan S.I.Berntein (Hashim Awang,1997:79). Bidang tumpuan kumpulan kedua lebih kepada kaji puisi, khususnya tokoh pentingnya iaitu Ejxenbaum yang sangat berminat dengan ciri-ciri bahasa puitis.
Idealisme Formalisme bertitik tolak daripada pandangan Shklovsky terhadap kesusasteraan. Shklovsky memahami kesusasteraan sebagai penjumlahan daripada alat stilistik yang digunakan di dalamnya (Raman Selden & Peter Widdowson,1997:31). Pandangan awal Shklovsky ini memberi gambaran jelas asas pemikiran yang berkembang dalam Formalisme kemudiannya.
Idea awal Formalisme bermula di tangan Shklovsky yang menulis esei berjudul Art as Technique. Idea ini berkembang di Rusia kemudiannya dan dalam tulisan itu beliau mengemukakan konsep `defamiliarization` sebagai kunci bidangnya (Philip Rice & Patricia Waugh,1996:17). Pada tahun 1924, idea ini mendapat kritikan daripada Trotsky sebagaimana yang termuat dalam Literature and Revolution. Idea Formalisme ini berkembang pesat di Praha, Cekoslovakia, terutama daripada kelompok Linguistik Prague. Praha pada penghujung tahun 1920-an menjadi pusat pengajian ilmu sastera yang penting.
Penghujung tahun-tahun 1920-an hingga ke tahun 1930, perkembangan teori ini mula pudar akibat tekanan politik Rusia. Menurut Fokkema D.W. & Elrud Kunne-Ibsch (1998), kebangkitan Nazi telah memaksa ramai ilmuan meninggalkan Cekoslovakia dan mereka yang tinggal disekat dari bersuara. Campur tangan dan tekanan politik Nazisme telah memaksa ramai pendokong Formalisme meninggalkan Cekoslovakia, termasuklah tokoh pentingnya iaitu Rene Wellek dan Roman Jakobson yang berpindah ke Amerika Syarikat.
Penghijrahan ramai tokoh Formalisme ke Amerika Syarikat dan Eropah tidak melenyapkan idea-idea Formalisme, malah idea-idea itu kemudiannya dikembangkan dan menjadi asas kepada kemunculan teori-teori sastera lain di Eropah atau di Amerika. Hampir setiap aliran baharu teoretikal sastera di Eropah berpandukan kepada tradisi `Formalisme` yang menekankan kecenderungan yang berbeza-beza dalam tradisi itu dan cuba menetapkan interpertasinya sendiri mengenai Formalisme sebagai satu-satunya yang benar (Fokkema D.W. & Elrud Kunne-Ibsch,1998:15).
Formalisme mendokong falsafah seni untuk seni dengan prinsip teorinya `keunggulan teknik dan kejelian seni`. Menurut Boris Ejxenbaum, kaedahnya selalu dipanggil formalist, tetapi yang sebenarnya dia lebih suka kaedah itu dipanggil morfologi (Hashim Awang,1997:80). Dalam masa yang sama, Ejxenbaum lebih selesa dirinya dinamakan sebagai `specifiers`. Konsep morfologi dan specifiers bagi Ejxenbaum lebih tepat bagi menjelaskan penekanan dua perkara yang berkait rapat dengan hukum-hukum Formalisme Rusia iaitu, penekanan kepada karya sastera dan bahagian-bahagian yang membangunkannya; kedua, penekanan kepada kewibawaan autonomis pengkajian sastera (Hashim Awang,1997: 80).
Formalisme merupakan salah satu percubaan bersistem paling awal untuk meletakkan pengajian kesusasteraan pada suatu wadah yang berasingan dan menjadikan pengajian kesusasteraan suatu disiplin ilmu yang bebas dan khusus (Ann Jefferson dan David Robey,1988: 26). Formalisme mahu menyingkirkan unsur-unsur yang tidak bersifat kesusasteraan secara rigid dan bersistem. Kesusasteraan sebelum ini dianggap oleh Formalisme berada dalam keadaan tidak menentu kerana kehadiran bidang ilmu lain seperti sejarah, psikologi, etnografi, falsafah telah mendominasi karya kesusasteraan sehingga kesusasteraan sendiri terhijab. Oleh kerana itu, Roman Jakobson menganggapkan bahawa, ahli sejarah kesusasteraan telah memulakan kesusasteraan daripada disiplin sejarah, etnografi, psikologi, politik, falsafah yang menyebabkan kesusasteraan menjadi sumber yang tidak dipentingkan dan tidak sempurna.
Golongan Formalisme bangkit mahu membebaskan kesusasteraan daripada masalah ini dan mahu menjadikan bidang pengajian kesusasteraan sebagai satu bidang yang lebih baik dan mantap. Dapat difahami bahawa, apa yang ingin diketahui oleh Formalisme ialah, apakah sebenarnya yang menjadi bahan pengajian kesusasteraan, bukannya bagaimana karya kesusasteraan itu hendak dikaji (Ann Jefferson dan David Robey,1988:28). Minat Formalisme ialah terhadap elemen-elemen yang terkandung di dalam teks dan tidak berminat kepada aspek-aspek yang bersifat reprentasi dan ekpresi teks (K.M.Newton,1997:1). Mereka juga dengan jelas menolak peranan mimetik/ekpresi dalam teks kesusasteraan, menekankan kajian secara terperinci terhadap teks dengan mementingkan kaedah saintifik (Philip Rice & Patricia Waugh,1996:16). Formalime Rusia menolak pendekatan-pendekatan kritikan yang tidak sistematik dan bersifat elektik yang telah lama mendominasi pengajian sastera.
Konsep yang popular bagi Formalisme Rusia ialah `defamiliarsation` (menjadikan luar biasa). Konsep ini pada asasnya berkait dengan Shklovsky dan telah dibincangkan dalam karyanya yang berjudul `Art as device` yang diterbitkan pada tahun 1917. Dalam tulisan ini, Shklovsky menyebutkan, `kita tidak mungkin mempertahankan kesegaran persepsi kita tentang sesuatu; kehadiran yang `biasa` mengkehendaki semuanya sejauh mungkin menjadi automatik (Raman Selden,1989:5).
Perkembangan Formalisme kemudiaannya telah beralih tumpuan dengan memberi penekanan kepada hubungan linguistik dengan aspek-aspek formal teks kesusasteraan berbanding sebelumnya yang memberi penekanan kepada hubungan di antara bahasa sastera dengan bahasa bukan sastera (K.M.Newton,1997:1).
Apa yang menarik, idea Formalisme ini turut mendapat reaksi daripada golongan Marxisme. P.N.Medvedev dan Mikhail Baktin telah menulis responnya dalam satu tulisan berjudul `The Formal method in literary scholarship` yang diterbitkan pada tahun 1928 atas nama P.N.Medvedev, tetapi dipercayai tulisan ini ditulis oleh Bakhtin. Kritikan Bakthin ini menunjukkan idea Formalisme ini turut mempengaruhi Marxisme namun, pandangan yang dikemukakan oleh Bakhtin bukannya berkait dengan aspek penganehan atau aspek-aspek formal dalam teks kesusasteraan sebaliknya, Bakhtin melihat struktur bahasa dalam teks mempunyai kaitan dengan ideologi. Hubungan yang rapat antara bahasa dengan ideologi ini akhirnya membawa kesusasteraan ke lapangan sosial dan ekonomi yang menjadi landasan ideologi (Raman Selden,1989:13).
Bakhtin dalam tulisannya menyebutkan bahawa, bahasa tidak boleh dipisahkan daripada ideloogi. Tegasnya, the work cannot be understood outside the unity of literature. But this whole unity and the individual works which are its elements cannot be understood aoutside the unity of ideological life (K.M.Newton,1997:10).
Bakhtin melihat bahasa mempunyai upaya wacana sebagai fenomena sosial. Bahasa bagi Bakhtin bukannya benda mati dan statik tetapi, bersifat dinamik serta dapat mengungkapkan ideologi.
Golongan Formalisme melihat puisi sebagai penggunaan bahasa sastera paling sempurna. Ia adalah ucapan yang disusun sepenuhnya berdasarkan tekstur bunyinya dan unsur pembentukan yang utama ialah ritmanya (Raman Selden,1989:4). Jelasnya, aspek teknik menjadi suatu upaya paling unggul yang melahirkan kesan-kesan estetik dalam puisi. Pandangan Formalis berbeza dengan pandangan sebelumnya, khususnya aliran simbolisme yang menganggap puisi sebagai wahana pernyataan realiti yang tidak kelihatan.
Demikian juga pandangan Formalis terhadap genre prosa. Aspek utama yang dilihat dan diberi keutamaan ialah plot, bukannya isi atau tema cerita. Hanya plot yang betul-betul sastera, sedangkan cerita hanya bahan mentah yang menunggu untuk disusun oleh penulis (Raman Selden,1989:8).
Formalis melihat plot sebagai penyusunan berbagai-bagai cara yang digunakan untuk menghenti atau melambatkan penceritaan. Teknik penulis melakukan berbagai cara seperti teknik pendakian, pemerian, suspen, konflik, peleraian dan bermacam-macam teknik lagi itulah yang dipentingkan Formalis, bukannya isi cerita yang terkandung dalam plot itu.